Thursday, April 17, 2025

Berlajar Sabar bersama Cyberfarmer

 Rasanya kita sulit berada di suatu tempat dan mengembangkan berbagai program tapi tidak bergabung dengan masyarakat. Karena sejak awal ecoethno selalu berbasis potensi masyarakat yang ada, bagaimana budaya dan kearifan tradisional diperkenalkan pada anak anak.  Memperkenalkan Indonesia dan manusianya pada mereka yang semakin tercerabut dari akarnya karena gadget menyajikan dunia luar dengan mudahnya. Maka kembali ke masyarakat bagi kami, 'its a must'.


Dari mulai proses pembangunan yang diwarnai tembok miring sana sini karena dikerjakan keroyokan oleh pemuda Karang Taruna yang tidak berpengalaman jadi tukang bangunan namun pengangguran.  'Drama' khas kegiatan comdev yang menguras, dan akhirnya sampai juga pada saat ini, site kecil yang ditunggui oleh 4 orang pemuda yang sedang belajar 'keluar dari zona lingkaran setan'.
Ah itu baru satu sisi saja...biarkan saja jadi jejak.

Sisi lain, kita melihat potensi, membangun cerita dari hal yang ada di Cibuluh dan semakin lama  gagasan pengembangan kawasan ini menjadi concern utama Ecoethno dengan berusaha menggandeng Karang Taruna, pemerintah setempat bahkan ke tingkat Kabupaten. 

Bicara bagaimana Cyberfarmer dilahirkan, ketika melihat Cibuluh dengan potensi alam dan pertanian yang kaya, maka kita berfikir itu harus menjadi salah satu sajian utama untuk para pengunjung site. Karena kadangkala miris juga melihat para petani ketika banjir panen, banyak sayuran dijual sangat murah. Perlu menambahkan 'value'  pada hal ini. 

Di sisi lain, ecoethno dengan program untuk anak anak perkotaan, sangat sadar bahwa  'anak zaman now' butuh dekat dengan gadget, namun perlu mengeliminir dampak negatif seperti : kurang sabar, inginnya serba cepat dan instan seperti laiknya berselancar di dunia maya. 

Maka gadget tidak lah kami 'buang' namun akan kita jadikan media belajar bagi anak anak. Timbul gagasan berkebun dengan gaya berbeda,  bukan sekedar datang - panen - pulang. Tapi anak anak  bisa belajar yang namanya 'proses', merasakan kesabaran petani menunggu tanamannya tumbuh, besar dan pada akhirnya setelah berbulan akan merasakan panen.

Cyberfarmer, pertama kita cobakan pada beberapa pengunjung di awal tahun 2018. Anak anak menanam dari ukuran pohon 5 cm, kembali ke kota sambil sesekali melihat pertumbuhan pohon melalui gadgetnya , memberi usul pada pak Tani tentang tanaman mereka, dan pada bulan ketiga dengan suka riang mereka memetik hasilnya. Tidak lupa membagi dua hasil tanaman dengan pak Tani yang setiap hari memelihara tanaman mereka. 

Pengalaman ini tidak mudah, merasakan sebutir kol atau tomat dari perjalanan panjang lelah pak Tani semoga akan menjadikan anak anak lebih menghargai makanan di meja makan. Lebih menghargai jerih payah orang lain berkilo meter jarak dari mereka di kota. Dan suatu saat, berharap ketika mereka menjadi pemimpin, maka ia akan menjadi pemimpin yang penuh welas asih...

ps. Ecoethno masih berusaha mengembangkan aplikasi untuk cyberfarmer, yang mau bantu bisa kontak di 08121405647



















Pertama kali dipublikasikan pada 05092018

No comments:

Post a Comment

Hey..Anak TK Juga Bisa Berpetualang!

 Setelah mendapat paksaan, dorongan, motivasi dari para ibu ibu seantero jagad Ecoethno, akhirnya sejak awal tahun 2018 ini ada lini baru di...